​Menjawab Undangan #MengulasMaharani

Oleh Ayu Atikha Reinaty

**

Azhar Nurun Ala. Seorang penulis yang telah melahirkan beberapa karya. Seperti Ja(t)uh, Tuhan Maha Romantis, Seribu Wajah Ayah, Cinta Adalah Perlawanan, Konspirasi Semesta, Pertanyaan Tentang Kedatangan, dan Mahar Untuk Maharani. Oke, kali ini saya akan coba mengulas novel terbaru Kak Azhar yang berjudul Mahar Untuk Maharani.

Awalnya saya tak begitu tertarik dengan buku terbaru Kak Azhar ini, sebab saya sudah tertarik dengan buku yang berjudul Pertanyaan Tentang Kedatangan. Namun, saat membaca blurb dari buku Mahar Untuk Maharani. Terhipnotislah diri ini untuk membelinya. Hanya dengan sebuah kalimat yang berada di belakang cover buku. “Kisah cinta seorang sarjana yang memilih hidup sebagai petani” begitulah kalimat yang ditulis Kak Azhar. Jujur, hanya dengan membacanya saja membuat saya penasaran. Penasaran akan alur yang Kak Azhar tulis dalam buku Mahar Untuk Maharani.

Kebanyakan penulis dalam membuat tokoh utamanya, pasti akan mengedepankan nilai tokoh itu dalam lingkungan bermasyarakat. Seperti menjadi CEO dalam sebuah perusahaan, dokter spesialis, atau jabatan lain yang sudah lumrah dianggap oleh masyarakat dengan posisi yang wah. Namun, Kak Azhar mensuguhi hal yang berbeda di buku Mahar Untuk Maharani ini.

Di awal bab, Kak Azhar telah memperkenalkan dua tokoh utama dalam buku Mahar Untuk Maharani. Yaitu Salman dan Maharani. Dan di awal bab inilah, menurut saya, Kak Azhar dapat membentuk pola pikir sang pembaca bila endingnya nanti Salman dan Maharani akan bersatu. Sebab di bab pertama menceritakan tentang kegundahan Salman dalam memilih mahar yang tepat untuk Maharani itu seperti apa. Selanjutnya, di bab-bab berikutnya, barulah Kak Azhar menceritakan awal mula perjumpaan Salman dan Maharani. Perjuangan Salman dalam merebut hati seorang ayah dari wanita yang ia cintai. Tak lain adalah Maharani. Perjalanan Salman dalam menyelesaikan skripsi, hijrah menjadi seorang muslim yang taat, menata hati saat apa yang diinginkannya tak sesuai harapan, mencari pekerjaan yang layak agar dipercaya oleh Ayah Maharani untuk melepas putrinya kepada Salman, tantangan dari Ayah Maharani untuk Salman. 

Kemudian muncul sosok Ajran–teman semasa SMA Salman–yang mengajarkan kepada pembaca tentang pertanian. Tentang ketahanan pangan. Tentang bagaimana ilmu yang sudah diperoleh di bangku kuliah dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Gaya bahasa yang santai, karakteristik tokoh yang kuat, kemudian nilai-nilai kehidupan yang ditulis sangat berkesan bagi saya sebagai pembaca. Banyak hal positif yang dapat diambil dari buku Mahar Untuk Maharani ini. Yang paling mengena di saya adalah tentang pandangan orang-orang saat seorang anak kuliah mengambil jurusan pertanian atau apapun yang sejenisnya. Tak sedikit yang berujar, “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, bila nantinya menjadi petani. Kalo hanya menjadi petani, tak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup ikut ke sawah, liat bagaimana petani bekerja, kemudian praktekkan.”

Namun, dari buku ini, cara pandang kita akan dibuka oleh Kak Azhar terkait asumsi yang sering beredar di masyarakat. Berikut salah satu dialog yang ditulis Kak Azhar, “Le, Bapakmu ini nyesel senyesel-nyeselnya kok ya ndak berpendidikan tinggi, cuman lulusan SMP. Dulu tak pikir untuk apa sekolah, belajar hitung-hitungan, belajar fisika, kimia, lha wong Bapak senengnya nyangkul di sawah. Sekarang Bapak sadar ndak cukup cangkul dan otot itu Le, ndak cukup. Petani-petani ndak akan pernah maju kalau ndak dibantu dengan teknologi. Kamu Le, kamu harus sekolah tinggi. SMA… Kuliah pertanian. Bikin formula, bikin teknologi, bikin makmur petani.”

Selain itu, konflik yang disajikan pun sangat beragam dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Pemilihan kata yang tepat, membuat pembaca ingin berlama-lama menikmati setiap rangkaian kata yang telah tertuang. Yang lebih berkesan lagi, Kak Azhar mampu membuat plot twist yang tak disangka-sangka. Di awal bab, pembaca akan mengira bahwa Salman akan bersatu dengan Maharani. Namun, di akhir bab, Salman tidak jadi dengan Maharani. Karena Maharani telah dilamar oleh teman semasa SMA Salman—Ajran.

Bahkan hingga saya menutup buku ini pun, masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Bahkan ada hal yang saya tidak temui jawabannya di buku ini. Saat Salman menanyakan kepada Ajran, “Kenal Rani dimana?” Dan dijawab oleh Ajran, “Kamu yang ngenalin.” Kemudian Salman malah balik bertanya, “Kapan? Dimana?” Malah dijawab senyuman oleh Ajran. Jujur, ini yang masih menjadi tanda tanya. Soalnya saat saya membaca, tidak ada keterkaitan dengan alur sebelumnya. Mungkin akan Kak Azhar jawab di buku lanjutannya dari Mahar Untuk Maharani.

Di tunggu loh Kak, sequelnya Mahar Untuk Maharani. Semenjak baca buku ini, saya tertarik dengan dunia pertanian. Malah saat ini, saya iseng-iseng mencoba menanam tauge. Hehehe. Mungkin ke depannya saya akan mencoba menanam tanaman menggunakan teknologi hidroponik. Sukses selalu untuk Kak Azhar, dan tetaplah menginspirasi lewat buku-bukunya.

**

Di tulis saat hujan turun menyapa

07.03.2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s