Sebuah Renungan: Ujianmu dan Ujianku Memanglah Berbeda

*nama tokoh dan tempat kejadian sengaja disamarkan ^^

**

Pagi ini, rencananya aku akan menulis lanjutan cerita yang telah terpublish di wattpad. Rencananya loh ya. Namun apa daya, ketika keinginan dan tubuh tidak bisa sejalan. Dan berakhirlah aku di sebuah tempat yang nyaman. Kasur. Padahal ide-ide sedang bertebaran di dalam kepala, meminta segera dikeluarkan ke dalam bentuk tulisan.

Huft!

Kuhembuskan nafas dengan kasar. Menatap langit-langit kamar. Potongan-potongan adegan dalam cerita yang kurancang masih saja berputar layaknya sebuah video. Inilah kebiasaanku saat membuat sebuah cerita. Dibandingkan dengan menuliskan inti tiap adegan pada sebuah kertas, aku lebih menyukai langsung membayangkannya ke dalam bentuk visual di dalam imajinasiku.

Kupejamkan mata sejenak. Ingin sekali mengistirahatkan pikiranku. Sekitar lima belas menit aku terlelap. Sebenarnya tidak sepenuhnya memasuki alam mimpi.

Tuing.

Tak berapa lama terdengar bunyi nada pesan dari salah satu aplikasi messenger. Kubuka. Ternyata dari temanku yang berada di Negeri Gingseng.

Aku mau cerita. Terkadang kebimbangan menyertai.

Tulisnya. Kucoba mengumpulkan kesadaranku. Biasanya dia akan menceritakan hal-hal yang menarik dan penuh dengan berbagai pelajaran didalamnya. Terlebih kebanyakan dari cerita maupun diskusinya menginspirasiku dalam membuat sebuah tulisan.

Selang semenit, muncul beberapa chat lagi darinya. 선생님, begitulah kunamai kontaknya.

선생님
Aku kan hari ini bangun sekitar jam 03.30 KST. Kemudian melihat tetangga sebelah kamarku (orang Indonesia juga teman sejurusanku saat sarjana) sudah bersiap untuk pergi bekerja di sebuah pabrik es. Soalnya dia bisa mengendari mobil. Ia bekerja hingga pukul 08.00 KST.

Terkadang rasa iri menyelimuti hatiku. Namun, aku juga sadar akan kemampuan diri, ‘Apakah fisikku sekuat dirinya?’ Sepertinya tidak. Summer tahun ini tak sedikit mahasiswa di tempatku menyempatkan dirinya untuk bekerja di luar. Memang kebanyakan dari mereka tidak bekerja di dalam lab. Kadang aku mempunyai keinginan untuk mencari tambahan pekerjaan di luar selain dari dalam lab sebab bekerja di sana bisa datang pada sore hari.

Alhamdulillah, selama ini keuanganku masih cukup untuk memenuhi kebutuhanku di sini. Bila aku mengatakan kurang, rasanya seperti tak ada rasa bersyukur sama sekali bukan?

Ada beberapa pertimbangan bagiku bila bekerja di luar. Seperti bagaimana nanti melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim (red: sholat) sedangkan sebagian teman-temanku yang sudah berkerja di sana adalah mereka yang non muslim. Kemudian aku sudah merasa nyaman dengan kebiasaan sesuai jadwal yang kubuat.

Kubaca chat yang telah diketiknya. Lalu membalasnya dengan sebuah kalimat, “Kalaupun ingin mencari pekerjaan di luar, ya sebisa mungkin cari yang bisa melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang muslim.” Padahal aku tak ingin menginterupsinya bercerita, sebab di bawah nama kontaknya terdapat tulisan “mengetik…” namun aku telah mengirimkan kalimat itu. ㅋㅋㅋㅋ

선생님
Kemudian aku merenung, terkadang kita memang iri dan termotivasi saat melihat teman kita yang begitu rajin. Setidaknya ketika jam kerja temanku itu, aku tetap bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat, misalnya membaca buku, browsing tentang berbagai hal, menulis thesis maupun sebuah cerita yang bermanfaat, atau olahraga. Walau dari semua kegiatan yang kulakukan tidak menghasilkan uang saat ini, namun setidaknya dapat menjadi sebuah investasi untuk masa depanku.

Aku pun segera meresponnya dengan mengetikkan, “Nah, betul itu. Setidaknya kita terpacu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.”

선생님
Kadang rasa iri itu muncul saat melihat dia yang lebih rajin. Sementara diri ini masih saja lalai.

Jari jemariku kembali berselancar di atas tuts qwerty, mengetikkan huruf demi huruf, “Setidaknya hal itu bisa mengingatkanmu dari kelalaian-kelalaian yang menghampiri. So, bila melihat temanmu yang rajin itu pastinya akan memunculkan sebuah sugesti bahwa kamu tak ingin menyia-nyiakan waktu, bukan?”

선생님
Banget Ru. Lalu tahu tidak? Professor kita itu berbeda. Maksud aku karakteristiknya.

Bila professor dia itu ketat sekali sehingga menjadikannya harus lebih dalam hal kerja keras. Sedangkan professorku santai sekali, bahkan membuatku kebingungan sendiri. Negatifnya bila keluar rasa malas dalam diri ini, udah deh bisa-bisa terbengkalai pekerjaanku sebab tak ada sebuah tuntutan ataupun paksaan.

Kemudian dari masalah jadwal di dalam lab. Temanku itu bila pergi ke lab bisa dari pukul 10.00 sampai 18.00 atau 19.00 KST. Berbanding terbalik denganku yang akan memulainya dari pukul 13.00 sampai 17.00 KST.

Kali ini aku menanggapinya selang tiga menit, “Wah ternyata berbeda juga ya kondisi diantara kalian berdua. Dibalik itu semua pasti ada hikmahnya, pasti. Kamu mendapatkan professor yang santai dan dia memperoleh professor yang berbanding terbalik denganmu.”

선생님
Iya, malah kami pernah sharing terkait hal itu. Tahu tidak? Ternyata karakter masing-masing professor kita itu merupakan kebalikan dari karakter kita saat sarjana dulu.

Professor dia tegas, ketat, serius, dan tuntutannya tinggi sedangkan professorku tipikal orang yang santai, humoris, suka minum dan merokok, dan serta tuntutannya standar.

Nah, dulu saat masih kuliah di Indonesia. Temanku itu orangnya santai, suka minum dan juga merokok. Sedangkan aku orangnya malah serius dan study hard, hehe.

Aku menganggukkan kepala kemudian membalasnya, “Tuh kan benar, pasti ada pelajaran didalamnya.”

선생님
Kadang aku membayangkan bila mendapatkan professor dia sepertinya aku akan semakin stress, haha.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah:286)

 

Tulisan ini dibuat oleh Haru Zhafira.

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Renungan: Ujianmu dan Ujianku Memanglah Berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s