​Dengar dan Pahami Aku 👦

Aku berjalan menuju ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu. Arah pandangan kutujukan pada sebuah sofa yang berada di sana.  Ketika langkah kakiku menuju tempat empuk itu, si handsome boy – panggilanku pada anak lelaki berumur 3 tahun- tengah berceloteh. 

“Rumah Opa catep,” ujarnya. (Rumah Opa cakep). 

“Ada towongannya,” lanjut anak lelaki yang bermata onyx itu. (Ada terowongannya). 

Keluargaku yang berada di sana langsung tersenyum mendengar ocehannya.  

“Tante,  rumah Opa ada towongannya,” adunya padaku. “Itu tuh,” kemudian menunjukkan sesuatu yang disebutnya terowongan dengan jari telunjuk mungilnya. 

Aku yang baru sampai ke ruang tamu langsung menanggapi dan melihat arah jarinya yang menunjuk ke suatu tempat.

 “Ah… Itu bukan terowongan tapi ventilasi,” jawabku. 

“Butan, itu towongan…!” sanggahnya tak mau kalah. (Bukan,  itu terowongan…!). 

“Sini-sini coba tunjuk mana towongannya,” pinta Ibu si handsome boy

Ia masih belum beranjak dari sofa yang didudukinya. Dan malah menunjuk sesuatu yang disebutnya terowongan.  

“Itu…” tunjuknya lagi.  
Sebenarnya arah di mana ia menunjuk sesuatu itu bagiku adalah ventilasi tapi tidak dengan si handsome boy. 

Semua orang yang berada di ruangan itu pun hanya menanggapinya dengan ber-oh ria.  Si handsome boy yang merasa mendapatkan tanggapan yang datar. Akhirnya kembali bersuara. 

“Itu towongan…” tunjuknya kembali dengan full of expression. Aku masih berpikir bahwa itu adalah ventilasi bukan terowongan.  

Akhirnya si ibu handsome boy mengajaknya mendekati sesuatu yang dianggap olehnya sebagai terowongan. Kemudian dirinya menunjuk benda itu. 

Kami menganggukan kepala tanda mengerti sekarang. 

Terowongan yang dimaksud adalah lorong yang menuju arah dapur. Bentuknya memang seperti sebuah terowongan karena itu adalah beton penyangga untuk bangunan yang berada diatasnya. Tak ada yang salah memang. Hanya persepsi antara aku dan handsome boy yang berbeda. Aku memahami arah yang ditunjukkannya pada sebuah ventilasi yang bentuknya memang bolong-bolong (persepsi aku yang dimaksud terowongan adalah ini) sedangkan bagi handsome boy terowongan yang dimaksudnya bukanlah sebuah ventilasi. 

“Dengar ya Tante,  itu tuh towongan,” jelasnya kembali padaku. 

“To… Wo… Ngan…” ejanya. “Towongan.”

Sontak ucapannya itu membuat tawa kami pecah. Seorang anak kecil yang mencoba menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan sebuah ejaan.  

Ia hanya menginginkan kita memahami dan menanggapi apa yang ingin diceritakannya. Terkadang kita lupa untuk memberikannya waktu bersama. Bercerita, bermain, tertawa, ataupun bercanda. Anak-anak mempunyai caranya tersendiri untuk mendapatkan perhatian dari kita. So, jangan tutup mata dan telingamu wahai para ayah dan ibu. Luangkan waktumu bersama si kecil walau letih menghampiri hari-harimu. 

사랑해, 너무 너무 사랑해 우리 조카 아들 😘👦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s