Tak Ada Kegelapan yang Ada Hanya Tak Ada Penerangan #2

“Sebelumnya aku mau cerita juga yang masalah adakalanya kadang kita tidak bisa mengkorelasikan agama dan realita.”

“Jadi semester 1 lalu aku belajar tekun dengan tertatih, berdoa dan yang jelas aku muslim. Sementara ada temanku orang Belieze dia atheis. Kelihatannya santai. Pernah lihat dia nongkrong sambil minum beer. Kalo kita menilai sekilas pasti aku yang bakal unggul dong. Tapi buktinya malah dia ranking 1 sedangkan aku ranking 2, hahaha,” lanjutnya.

***

Keesokan harinya, aku belum sempat mengecek hp. Ternyata terdapat 44 pesan dari 7 pengirim di whatsapp yang belum kubaca.

“7 pengirim? Tumben banyak,” pikirku. “Paling pesan dari grup.”

Biasalah ya, pesan dari grup kan kadang ada yang jelas dan gak jelas. Segera kubuka pesan-pesan dari grup, ya walau pun dibaca sekilas, hehehe. Hingga menyisakan 1 pengirim dengan jumlah pesan sebanyak 12 buah.

“Lanjut ya diskusinya sambil sarapan roti,” ujar seseorang yang ternyata adalah temanku.

“Jadi, ibu yang kemarin aku ceritakan itu menjelaskan konsep tasawuf juga.”

“Bagaimana sebenarnya manusia adalah refleksi dari sifat-sifat asmaul husna.”

“Kalo gak salah, di An-Najm itu Allah menerangkan yang saling berantonim seperti menciptakan tawa dan tangis, mati dan hidup, laki-laki dan perempuan, namun ketika bagian kekayaan bukan kemiskinan yang menjadi antonimnya, melainkan kecukupan.”

“Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” ~Q.S. An-Najm : 42

“Dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.” ~Q.S. An-Najm : 43

“Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.” ~Q.S. An-Najm : 45

“Dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” ~Q.S. An-Najm : 48

“Ini pelajaran buat aku juga, misalnya ketika aku melihat orang yang hidupnya susah, terkadang aku akan menjudgenya seperti ‘Pantas saja kamu hidupnya susah, habis gak sholat sih’. Seakan menilai satu amalan kemudian kita tahu segalanya keputusan Allah.”

“Kalo kita hanya menilai seperti itu seakan mengeneralkan bahwa orang-orang Palestina berbuat dosa sehingga diuji seperti itu.”

“Sedangkan orang-orang barat yang kaya mendapatkan nikmat Allah.”

“Ibaratnya kalo masalah seperti itu jangan pernah menjudge orang lain, tetapi buat kejadian itu untuk memuhasabah diri kita.”

“Misalnya di Somalia, kita berpikir ada apa dengan orang-orang Somalia? Dosa apakah mereka sehingga diuji kelaparan?”

“Padahal mungkin bagi orang-orang Somalia sendiri, kelaparan adalah sebuah nikmat untuk menggugurkan dosa-dosanya.”

“Kita kalo menilai kesulitan orang lain jangan menjudge ‘Kamu begini karena ini’ atau apapun itu. Cukup gerak dan tanyakan apa yang bisa kita bantu.”

“Kita boleh menjudge hanya untuk diri sendiri sebagai muhasabah (introspeksi).”

Aku perlahan membaca pesan yang dikirimkannya dengan seksama, memahami maksud dari setiap kalimat yang diketiknya.

“Masya Allah jawabannya,” balasku. “Oke, sekarang aku tambah paham.”

Rata-rata kita selalu melihat sebuah masalah dari satu sisi tanpa melihat sisi yang lainnya. Hingga akhirnya kita membuat sebuah kesimpulan dari sisi yang terlihat saja. Terkadang pula kita selalu memberikan penilaian telak terhadap keadaan seseorang. Tanpa memberikan pilihan bantuan yang dibutuhkannya dan bergerak membantunya dengan opsi yang kita sampaikan.

“Lagi-lagi kena tampar,” balasnya menanggapi komentar yang kuberikan.

“Selagi tamparannya menyadarkan kita, gak masalah. Bahkan lebih menguatkan keimanan,” balasku mengakhiri diskusi singkat kami.

Di tengah sunyinya malam, 26.03.2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s