Tak Ada Kegelapan yang Ada hanya Tak Ada Penerangan

Malam ini aku sudah berada di depan si biru, temanku. Aku menghidupkannya dan membuka program pengolah kata. Tipe font sudah aku setting menjadi ‘Times New Roman’ dengan ukuran 12. Tak lupa alignment tulisan aku ubah menjadi justify dengan line spacing 1,5. Namun jariku masih berada di atas tuts keyboard tanpa menekan satu huruf pun. Beberapa kali aku mengerjapkan mata. Mencoba fokus. Bayangan alur cerita telah tergambar jelas dipikiranku. Namun sayang jari jemari ini seakan tak terkoneksi dengan pikiran.

Diam. Hening. Kurang lebih 20 menit aku diam menatap layar putih dihadapanku. Biasanya aku menatap layar hitam dengan deretan huruf yang menampilkan beberapa kata dengan warna yang berbeda. Tapi hari ini aku ingin melupakan si hitam terlebih dahulu. Selang beberapa menit terdengar sebuah getaran dari smartphoneku menandakan ada sebuah pesan masuk.

Pandanganku kini teralihkan menatap layar benda persegi panjang yang berada di tangan kananku. Aku membuka pola kunci di layar, kemudian melihat notifikasi. Ternyata sebuah pesan dari temanku diwhatsapp. Aku membuka icon berwarna hijau itu. Membaca pesan darinya. Sepertinya dia ingin berdiskusi. Terlihat dari pesan yang dikirimkannya yaitu sebuah pertanyaan. Sebelum menjawab pertanyaannya, aku terdiam sejenak. Lagi-lagi pertanyaannya sangat mirip dengan temanku dulu yang pernah menanyakan hal serupa. Pertama dia pernah bertanya tentang pendapatku terhadap poligami dan sekarang pertanyaannya pun sama.

“Rei, jika Allah Maha Mencukupi. Kenapa ada hamba-hamba yang kelaparan seperti di Somalia?” tanyanya.

Selang tiga menit, aku pun membalasnya.

“Dan mengapa orang-orang yang sangat berkecukupan tidak pernah membagi hartanya?”

“Allah memang Maha Mencukupi, tapi bukankah Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya?” lanjutku.

Can you explain it?” balasnya.

“Iya, Allah Maha Mencukupi. Walau Allah memiliki sifat seperti itu, bukan berarti kita sebagai hambaNya hanya menengadahkan tangan dan memohon dengan segera untuk mencukupi kebutuhan kita. Kita diciptakan di dunia adalah untuk beribadah kepadaNya. Bahkan banyak orang-orang yang tidak beribadah diberikan harta berlimpah yang berbanding terbalik dengan orang yang giat beribadah. Sebenarnya Allah memberikan hal itu kepada mereka yang tidak beribadah sebagai peringatan apakah dia akan bertobat atau tidak. Nah, orang-orang yang kelaparan di Somalia, mungkin Allah sedang mencoba memberikan pelajaran kepada mereka yang mempunyai harta berlebih untuk dibagikan ke sesama dan menguji mereka yang tidak beribadah kepadaNya untuk mendekatkan diri. Sedangkan orang yang ditimpa kelaparan di Somalia, mungkin Allah sedang mengujinya dalam hal kesabaran. Hidup manusia di dunia itu penuh dengan ujian,” jelasku kepadanya.

“Masya Allah I got it. Kemarin habis diskusi dengan seorang ibu yang melanjutkan studi di sini terkait masalah itu dan aku sampai bilang ‘Masya Allah’. Aku baru tau jawabannya.”

Ketika aku membaca balasannya. Aku mengerutkan kening. Dia bilang dia mengerti? Mengerti dengan penjelasan yang aku paparkan atau mengerti dengan penjelasan dari ibu itu? Padahal aku pun tak yakin dengan penjelasan yang aku sampaikan.

“Kamu baru tau jawabannya dari ibunya ketika diskusi?” tanyaku.

Yes dan mantap banget dengan polesan filosofi.”

“Jawabannya apa? Aku mau tau,” balasku karena begitu penasaran dengan jawaban beliau yang menurutnya disampaikan dengan polesan filosofi. “Jawabannya aku tadi kayaknya kurang pas,” lanjutku.

“Sebenarnya jawabannya hampir sama kok. Intinya ga ada gelap, yang ada hanya tak ada penerangan,” balasnya. “Aku jeda dulu ya, jenuh seharian dengan laptop.”

Aku menjatuhkan rahangku. Disaat sedang penasaran menunggu penjelasan darinya. Tiba-tiba ia harus menjedanya terlebih dahulu. Mungkin maksudnya menjeda diskusi ini, karena ada keperluan yang harus diselesaikannya terlebih dahulu. Okay, let’s wait a minute.

Berhubung koneksi internetku tidak stabil, jadi aku baru mendapatkan balasan darinya selang 45 menit.

“Sebelumnya aku mau cerita juga yang masalah adakalanya kadang kita tidak bisa mengkorelasikan agama dan realita.”

“Jadi semester 1 lalu aku belajar tekun dengan tertatih, berdoa dan yang jelas aku muslim. Sementara ada temanku orang Belieze dia atheis. Kelihatannya santai. Pernah lihat dia nongkrong sambil minum beer. Kalo kita menilai sekilas pasti aku yang bakal unggul dong. Tapi buktinya malah dia ranking 1 sedangkan aku ranking 2, hahaha,” lanjutnya.

“Okay okay, lalu? Sorry sinyal di sini jelek. Jadi wa mu baru masuk.”

Aku makin semangat mendengarkan kisahnya dan pastinya akan ada pembelajaran di dalam cerita itu. So, aku sudah mengumpulkan fokusku. Ketika dirinya membalas pesan di wa. Lagi-lagi aku menjatuhkan rahang. Kalo di film-film kartun mah, suasananya jadi gelap terus orang itu menundukkan kepalanya dan jiwanya seakan ingin keluar dari tubuhnya. Kebayangkan gimana adegan dalam film kartun itu? Kurang lebih seperti itu yang aku rasakan.

“Lanjut kapan-kapan ya Insya Allah, ngantuk,” balasnya mengakhiri diskusi ini.

You know what I feel, right? Curious. (-.-)”
Tapi ya sudahlah, kita tunggu saja cerita dari temanku itu. Setidaknya hari ini aku bisa membuat sebuah cerita, hahaha (^.^)

 

Kota Mangga, 23.03.2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s